Atlet Bulu Tangkis yang Mengharumkan Nama Indonesia
Atlet bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia selanjutnya adalah Taufik Hidayat. Taufik Hidayat menjadi atlet bulu tangkis legendaris yang namanya tentu dikenal oleh masyarakat Indonesia.
Taufik Hidayat berhasil menjadi Juara Dunia, meraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena, 3 kali menang di Juara Asia, 3 kali juara di Asian Games, serta 2 kali membawa nama Indonesia meraih juara Thomas Cup.
2. Susi Susanti
Atlet bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia selanjutnya adalah Susi Susanti. Susi Susanti membuktikan bahwa tidak hanya atlet bulu tangkis pria yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Ia termasuk dalam deretan atlet perempuan paling sukses sepanjang sejarah bulutangkis.
Susi Susanti menjadi juara Sudirman Cup, 2 kali menjuarai Uber Cup, 6 kali mendapatkan Juara Dunia, dan peraih medali emas Olimpiade 1992 yang diadakan di Barcelona.
Ia menikah dengan Alan Budikusuma, dan dijuluki sebagai "Gold Bride" atau Pasangan Emas Indonesia, karena keduanya adalah atlet bulu tangkis Indonesia yang memiliki banyak kemenangan.
3. Alan Budikusuma
Atlet bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia pertama adalah Alan Budikusuma. Alan Budikusuma adalah atlet yang bergabung dengan PB Djarum pada tahun 1986.
Alan Budikusuma telah sukses meraih gelar juara di ajang Indonesia Open 1993, Thomas Cup 1996, dan mendapatkan medali emas di Olimpiade 1992 yang diadakan di Barcelona.
Selain itu, ia juga mendapatkan banyak penghargaan dari kompetisi lain seperti Dutch Open, Thailand Open, dan German Open.
4. Rudy Hartono
Atlet bulu tangkis yang mengharumkan nama Indonesia selanjutnya adalah Rudy Hartono. Rudy Hartono merupakan atlet pelopor yang legendaris dan membuat bulu tangkis Indonesia disegani di dunia.
Rudi Hartono mendominasi di tahun 1968 sebagai juara All England. Bahkan, ia menjadi satu-satunya atlet yang berhasil juara sebanyak 7 kali di kejuaraan ini, dari tahun 1968-1974.
Tak hanya itu saja, Rudi juga menjadi salah satu dari tim Indonesia yang memenangkan kejuaraan Thomas Cup 6 kali secara berturut-turut dari tahun 1970-1982.
Dengan prestasi gemilangnya ini, tidak heran bila atlet Rudy Hartono dinobatkan di Badminton Hall of Fame pada tahun 1997.
5. Anthony Sinisuka Ginting
Pemain badminton Indonesia, Profil Anthony Sinisuka Ginting mengawali ketertarikan di dunia tepok bulu ini sudah dari kecil.
Ia lantas bergabung dengan klub SGS PLN Bandung, klub yang sama dengan peraih medali emas Olimpiade Taufik Hidayat. Sejak resmi menjadi atlet pelatnas, Anthony Ginting sudah menorehkan berbagai prestasi di tingkat internasional. Prestasi yang ia torehkan antara lain, Juara Badminton Asia Team Championship 2016 dan Juara Korea Open 2017.
Salah satu yang paling membanggakan dari seorang Anthony Ginting adalah saat ia mampu menembus babak semi final dalam Olimpiade Tokyo 2020.
Hal itu pun menjadi sejarah bagi bulutangkis Indonesia. Pasalnya, Ginting menjadi atlet pertama untuk cabang bulu tangkis nomor tunggal putra setelah Taufik Hidayat dan Sony Dwi Kuncoro yang meraih prestasi dalam Olimpiade Athena 2004. Saat ini posisi Anthony Sinisuka Ginting berada di ranking kelima dunia kategori single dalam BWF Badminton.
6. Jonathan Cristie
Jonathan Cristie ini memang sudah telrihat sejak kecil ketertarikannya di bidang bulu tangkis. Berlatih sejak usia 6 tahun, ia mencetak sejarah dengan menyabet 7 piala pada kejuaraan tingkat provinsi, nasional, dan internasional di usia 11 tahun. Di dalamnya termasuk Olimpiade Pelajar SD se-ASEAN pada tahun 2008.
Debutnya di turnamen internasional mulai saat ia berusia 15 tahun. Saat itu, ia bahkan langsung menjuarai Indonesia International Challenge 2013.
Pada kejuaraan yang sama di tahun depannya, ia pun masuk final. Tapi sayang, ia terpaksa harus mengakui keunggulan lawannya Lee Hyun Il yang sudah veteran. Itu pun setelah melalui pertandingan ketat 5 set.
Tahun 2015-2016 menjadi tahun-tahun sulit Jojo. Ia gagal menjuarai turnamen apa pun, bahkan sering tumbang di babak pertama. Hampir saja ia gantung sepatu jika bukan karena motivasi dan dukungan dari ayahnya yang tanpa henti.
Akan tetapi, setelah itu prestasi demi prestasi justru mengalir tanpa henti. Ia menyabet emas di SEA Games 2017 dan Asian Games 2018. Ia bahkan menciptakan All Indonesian Final (setelah 9 tahun) pada Korea Open 2017 bersama Anthony Ginting.
Di 2019 juga ia sukses merengkuh gelar bergengsi New Zealand Open dan Australian Open. Di Australia Open, ia sukses membalas kekalahannya atas Ginting 2017 lalu di final.
Puncaknya, saat ia berhasil mengantar Indonesia membawa pulang Piala Thomas 2021, setelah 19 tahun penantian. Sementara dalam ranking dunia, nama Jonathan Christie menempati urutan nomor 8
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar